Tampilkan postingan dengan label kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Desember 2011

Oleh-oleh Diklat Prajab

Sudah hampir 2 minggu di rumah pasca mengikuti diklat prajabatan, tapi seperti biasa baru sempat ngeposting hohoho. 17 hari yang tak terlupakan. Ada lucu-lucuan, ada serius-seriusan (ngga serius beneran dong hihi..), ada haru, ada bete...komplit gado-gado semua di sini. Entah kenapa waktu terasa sangat cepat saat diklat. Kita mulai kegiatan jam setengah 5. Kebayang dong ya, si dhita yang biasanya jam segitu masih mlungker harus udah dandan rapih buat aerobik. Otomatis jam 3, setengah 4 dini hari udah harus mandi. Pengen nangis kenceng deh awalnya. Tapiii....lama-lama udah terbiasa asik-asik aja tuh. 

Aerobik dan jalan jauh *bukan jogging lagi ah namanya -_- selesai jam 05.45, engga sempet mandi dong ya coz jam 6.15 udah ngumpul lagi di lapangan buat apel pagi. Alhasil tissue basah adalah teman baik sesudah olahraga pagi :)

Sarapan dimulai. Duduk siap grak, tanpa suara saat menyantap, kurangi dentingan sendok dan piring. Menunya sehat sih, ngga heran kalo teman-teman pada nambah berat badannya. Except me! gimana ngga sedih coba, lauknya ayam, telor...khawatir itu produk dari ayam suntikan *parno deh saya. Alhasil tiap dapat menu, teman sebelah yg dapet sampur buat ta hibahin ayam ato telor segede gaban itu hihihi

Kelar sarapan, langsung masuk kelas...full pelajaran dimulai dari jam 07.30 sampe kadang jam 20.00, selingan coffebreak, makam siang dan makan malam. Ngantuk di kelas itu wajar dan manusiawi, tidur di kelas pun acapkali termaafkan. Tapi suka geli kalau ingat nasehat salah satu binsuh di sana, "Boleh ngantuk, boleh tidur, tapi mata tidak boleh terpejam". Gimana caranya coba? Stock permen saya harus full buat ngurangi ngantuk saat di kelas.

Apel malam dimulai biasanya jam 20.15, tapi kadang penah juga sampe pukul 21.00 tergantung jadwal kegiatan pada hari itu. Ngantuk pasti, tapi sampe kamar belum bisa langsung tidur. Musti bikin resume materi dulu, masih harus mandi juga, masih ngerumpi juga sama temen sekamar. Jam 23.00 ke atas baru deh bisa pulasss

17 hari terlewati, harus nglewati ujian dulu. Sehari sebelum ujian padahal jadwal padaaaat, sempat kepikiran kaya mana harus belajar padahal materi seabreg, buku ngga pernah kebaca karena keburu ngantuk saat di kamar. Sistem Kebut Semalam jadi satu-satunya metode belajar yang paling yahud saat itu. Tapi rupanya cara itu gagal juga karena SAYA KETIDURAN! hiks...hiksss...panik, baru kebangun saat subuh, jadi total waktu belajar saya paling hanya kurang dari 2 jam. Modal bismillah dan doa mama,papa, ibu, bapak, juga suami adalah senjata terbaik saat itu. Agak panik sebenarnya saat suami bilang, "Ngawur sekali hon..masa belajar cuma dua jam kurang, dulu jamanku pada begadang loh belajarnya sampe pagi...pasti teman-temanmu juga udah pada begadang tuh belajarnya". Grrrrgh! Suamiku objektif sekali komentarnya...

Dag-dig-dug saat nunggu pengumuman kelulusan, apalagi ternyata eh ternyata...pengumumannya ditunda sampe esok pagi alias sebelum pelepasan pulang. Huwaaa, gimana kalo harus remidi coba. Sampe akhirnya si Bapak panitia Diklat mengumumkan siapa-siapa saja yang dapat peringkat di kelas. Aah, saya sih pasrah..peduli amat sama rangking, yang penting lulus tanpa remidi itu udah cukup. "Ada 70 orang lulus dengan predikat Baik Sekali, 39 lulus dengan predikat baik, dan 1 orang....." (Bapak itu diam menunda kalimatnya), deg-deg-deg jangan-jangan 1 itu ngga lulus *dasar su'udzon :p, si Bapak melanjutkan kalimatnya..."1 orang lulus dengan predikat Memuaskan serta meraih nilai tertinggi di antara satu senat 52,53 dan 54 ini". Teman-teman mulai riuh...Pengumuman dilanjutkan, kebetulan angkatan 52 yang notabene kelas saya berhasil meraih nilai rata-rata paling tinggi dari kelas lain...daaaan peringkat 1 dari angkatan 52 sekaligus lulusan satu-satunya dengan predikat Memuaskan adalah dari Badan PP dan KB Kabupaten Batang..teman-teman riuh menyebut nama saya. Respon saya? "Hellooo...ngga mungkin saya-lah, belajar aja kurang -_-". Ternyata benar, "Anindhita Setianingrum, S.Psi" sebut Bapak itu. Waaaah, alhamdulillahi Ya Alloh, masih diberi amanah untuk menyandang predikat itu. Gembira tentu. Yang jelas itu adalah oleh-oleh untuk orang rumah dan instansi.

eng..ing..eng, ini hasilnya :)

Puluhan sms dan bbm masuk ke hape saya mengucapkan selamat, sms dari kepala dinas, rekan kerja, mama papa, bapak ibu, dan suami saya yang objektif itu tentunya. Saya pikir, keobjektifan suami itu adalah caranya untuk melecut semangat saya dalam menghadapi tantangan (hihihi...luvyew much mas). Yang pasti ada banyaaak oleh-oleh yang lebih menarik daripada selembar surat kelulusan dengan predikat Memuaskan itu. Oleh-oleh saya yang lain adalah puluhan saudara dari berbagai daerah yang sangat hangat, nilai-nilai ke-positif-an selama diklat, badan yang lebih sehat (kata suami perut saya jadi slim selama prajab, badan juga lebih langsing hihihi), dan satu lagi....kulit yang lebih 'berwarna' (rajin upacara sih!). Alhamdulillaaah...nikmat mana lagi yang saya dustakan ya Alloh :)


Jumat, 11 November 2011

11-11-11 : Palindrom dan Diklat Srondol

Tepat hari ini, tanggal 11 November 2011 cukup rame dibincangkan sebagian kalangan. Ya, 11-11-11. Triple eleven tentu tanggal yang mudah di-ingat, cantik dan unik. Entah ada berapa undangan pernikahan yang saya terima hari ini namun keadaan membuat saya tidak dapat menghadiri dan berbagi kebahagiaan dengan mereka, alhasil jejaring sosial menjadi media terhangat untuk dapat mengirim ucapan dan sekutip doa buat kawan-kawan tercinta. Kembali ke 11 November 2011, rekan-rekan saya yang menikah pada hari ini tentu beranggapan bahwa tanggal cantik akan mendatangkan keberuntungan, beberapa dari mereka juga beranggapan Jum'at adalah hari yang penuh berkah sehingga tak ada masalah untuk menikah pada hari ini.

Ternyataaa...ada lagi nih anggapan lain yang mengatakan kalau tanggal 11-11-11 itu justru mendatangkan kesialan. Analisis fengshui menyebut bahwa pada tanggal tersebut, elemen Bumi berupa api Yang dan elemen langit berupa logam Yang. Karena elemen api dan logam saling merusak, maka hari itu dianggap hari yang tidak baik, apalagi untuk menikah.

So, mana yang benar yah? tentu kembali ke keyakinan dan pendapat mereka masing-masing. Tapi sebenarnya yang terjadi pada 11-11-11 adalah palindrom. Apa itu palindrom? Palindrom adalah susunan angka, kata, atau frase yang bila dibaca dari depan ataupun belakang tetap aja sama :)

Coba baca yang ini : 
* level
*Madam, I'm Adam
*kasur rusak
*katak
*malam
*aku suka

Baca terbalik? sama aja khan bunyinya?  Dalam sejarah dari dulu sampai saat ini palindrom angka dianggap memiliki makna tertentu. Apa benar? Dari sudut pandang psikologi, cara manusia memaknai angka cantik mungkin hanya "apophenia". Hal itu artinya bahwa manusia selalu berusaha mencari arti di balik data yang random. Tidak aneh tentunya karena manusia memiliki potensi kognitif yang luar biasa untuk selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak, menganalisa, dan memberikan arti secara personal.

Kurang lebih seperti itu gambaran tentang tanggal yang sedang dilewati hari ini. Palindrom memang selalu menarik untuk di-utak-atik. Tapi yang jelas, pada hari pula saya sedang harus melaksanakan diklat prajabatan di Badan Diklat Srondol kurang lebih 17 hari namanya. Jadiiii, mau tidak mau saya pasti akan mengingat tanggal ini sebagai kenangan bahwa saya pada waktu tanggal 11-11-11 tidak sedang berada di rumah, menguatkan hati meninggalkan suami di rumah sendiri, dan membiasakan diri dengan aturan yang mungkin terasa 'mengagetkan' pada awalnya.
Nikmati saja...nikmati palindrom ini, nikmati situasi diklat ini, nikmati persaudaraan yang ada di Srondol ini. Tentunya juga nikmati saat-saat menyenangkan seperti sekarang ini, kapan lagi bisa nge-blog saat diklat kalo bukan di jam TIK *hohohoho...

Tak lupa teriring salam dan doa untuk teman-teman tercinta yang menyatukan cintanya di jalan Alloh pada hari ini. Maaf yaaah...kondisi yang membuat saya tidak dapat hadir, tapi apapun itu segala kebahagiaan semoga akan berlimpah untuk kalian. Salam :)

Minggu, 23 Oktober 2011

Dukuh Durensari Bercerita


Beberapa hari yang lalu karena tuntutan tugas menjadi seorang abdi negara, saya berkunjung di sebuah pedukuhan terpencil yang (katanya) para warganya masih jarang tersentuh layanan publik. Yah…kondisi disana memang cukup mengagetkan saya yang notabene anak rumahan ini. Medan yang cukup sulit harus saya lewati sebelum sampai disana. Dengan kemampuan berkendara motor yang tidak begitu mahir, saya cukup terkaget-kaget dengan jalanan yang naik turun dengan curam, belokan yang mengejutkan, aspal yang tak rata, bahkan saya pun sempat mengalami telat oper gigi di tanjakan yang cukup mengkhawatirkan. Untunglah panic disorder saya sedang tidak kambuh saat itu *hehehe..
Finally…setelah perjalanan yang cukup mendebarkan dan menguras energi itu, sampailah saya di lokasi. Sebenarnya saya tak sendiri. Saya berangkat dengan tim penyuluh lain dengan konvoi motor. Sayangnya, hanya saya personil wanita yang terpaksa mengendarai motor sendiri karena yang lain berboncengan. Kami disambut dengan ramah oleh “pak bahu”, saya juga kurang tahu secara pasti apa arti dari “pak bahu” itu. Yang saya tahu, itu artinya si bapak ini termasuk tokoh masyarakat yang duduk di jajaran perangkat desa. Semacam “pejabat kecil” tingkat dusun. Suasana dukuh siang itu tak begitu ramai. Mungkin karena pada waktu kami datang, banyak warganya yang masih bekerja di sawah maupun di hutan. Pak bahu menjelaskan dukuh tersebut terdiri dari 4 RT, dengan jumlah rumah sekitar 170-an, dan jumlah kepala keluarga sekitar 400-an. Dari perhitungan tersebut dapat diasumsikan bahwa setiap rumah bisa jadi dihuni 2-3 kepala keluarga, bahkan ada yang 4 kepala keluarga. Fiuuuh…jumlah yang cukup “sesak” menurut persepsi saya karena sejauh pengamatan rumah mereka pun tak cukup untuk dapat dikatakan luas.
Petualangan kami dimulai. Misi kami adalah mensosialisasikan pentingnya program KB dan perencanaan keluarga bagi kehidupan masyarakat. Kebetulan juga, menjelang akhir bulan ini pemerintah daerah juga mengadakan program layanan MOP (Medis Operasi Pria) dan MOW (Medis Operasi Wanita) secara gratis bagi masyarakat yang membutuhkan. Dengan dipandu oleh seorang kader dan pak bahu, kami melakukan kunjungan dari rumah ke rumah. Tak jarang kami temui para ibu yang sedang berkumpul ngrumpi dan disitu pulalah sasaran empuk kami untuk melakukan penyuluhan.
Sebagaimana perkiraan saya, banyak diantara mereka yang menggunakan metode pil maupun suntik untuk ber-KB. Mereka harus membayar uang sekitar 13 ribu hingga 16 ribu untuk sekali suntik. Mereka pun mengeluhkan sebenarnya secara ekonomi hal itu terasa sangat mubadzir. Itu sebabnya tak jarang saat mereka sama sekali tak punya uang,mereka tidak ber-KB. Jadwal suntik ulang mereka abaikan, pil pun jarang dikonsumsi karena mereka sibuk memikirkan ‘mau makan apa hari ini?’. Akibatnya bisa ditebak, angka kelahiran di dukuh itu cukup tinggi. Sayangnya, hal itu tidak dibarengi dengan membaiknya kualitas hidup mereka.
Kami datang menawarkan alternatif lain untuk ber-KB. Melalui implan atau IUD sepertinya mereka tidak akan kerepotan “menjadwalkan diri” untuk pergi suntik atau minum pil secara teratur. Implan memiliki masa pakai 3 tahun, sedangkan IUD memiliki masa pakai 7 tahun. Mereka yang sudah memiliki jumlah anak lebih dari 3 dan berada pada tataran keluarga pra-sejahtera juga kami tawarkan untuk mengikuti program MOW/MOP. Semua layanan tersebut tak berbayar. Mereka hanya perlu membawa kartu Jamkesmas dan akan dilayani di puskesmas yang kebetulan berada pada kecamatan mereka.
Tak ada yang istimewa pada penyuluhan kami saat itu. Respon rata-rata dari masyarakat yang kami kunjungi di daerah manapun memang nyaris sama. Biasanya mereka merasa takut, malu, enggan untk mencoba cara baru dalam ber-KB. Kami sadar, membangkitkan insight masyarakat memang tidak mudah. Mengubah gaya lama menuju alternatif baru juga bukan hal gampang. Perlu pengetahuan, ketrampilan, dan gaya pendekatan komunitas yang sesuai. Apalagi pada saat ini kita senantiasa dibenturkan pada tataran hak reproduksi pada wanita. Tapi satu yang senantiasa menjadi cita-cita kami, memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui perencanaan kehidupan yang lebih baik.
Hingga pada akhirnya saya sampai di rumah salah seorang warga. Menurut informasi dari kader, rumah tersebut dihuni oleh ayah, ibu, dan 5 orang anak. Kaki saya berhenti di depan pintu rumah mereka. Rumah yang terbuat dari gedhek, lantainya dari tanah, tanpa meja kursi tamu. Terlihat onggokan baju entah bersih atau kotor di sudut rumah, ada kurungan ayam serta setumpuk daun kelapa di sudut yang lain. Sungguh saya merasa bangunan itu kurang layak untuk dapat disebut sebagai rumah. Kami disambut oleh pemilik rumah itu. Seorang wanita berusia 36 tahun yang tampak repot dengan menggendong anak bayinya. Disusul di belakangnya seorang anak kira-kira berusia 2 tahun yang tidak memakai celana, ber-ingus, dan masya Alloh (maaf) ada banyak borok di kepalanya. Saya sempat tercekat, hingga kemudian saya sadar dengan tugas saya. Saya mengajaknya berbincang, hingga pada akhirnya saya tawarkan berbagai kemudahan agar ibu tersebut mau berpartisipasi dalam ber-KB. Saya merasa, ibu ini benar-benar butuh bantuan. Anak pertamanya berusia 14 tahun dan sudah putus sekolah. Begitu pula dengan anak kedua dan anak ketiganya. Sang ayah sendiri bekerja sebagai pengumpul kayu di hutan.
“Tidak ada yang saya harapkan lagi mbak..dan saya yakin kami akan miskin selamanya. Anak saya yang pertama nanti setahun dua tahun akan saya nikahkan, semoga dapat orang kaya dan bisa bantu keluarga” curhat si ibu. Alloh…sungguh hati saya benar-benar teriris dengan pernyataan itu. Saya mencoba memberinya support dan semangat agar mereka bangkit dari kondisi itu. Ah, ilmu psikologi saya sangat terasa manfaatnya kala saya dihadapkan pada situasi seperti itu. Panjang lebar kami berbincang. Saya ber-empati dengan apa yang keluarga itu hadapi. Hingga akhirnya saya beranjak pamit karena waktu yang semakin menghimpit.
Dari pertemuan dengan keluarga itu saya belajar. Betapa masih beruntungnya saya dibanding mereka. Saya seakan di-ingatkan, betapa malunya saya masih sering menggugat Alloh dengan segala ketetapan-Nya padahal ada mereka yang jauh lebih tak berdaya. Tiba-tiba saya merasa, pekerjaan ini mungkin tak berarti bila saya tak mengiringinya dengan hati. Hikmah dari perjalanan kami saat itu adalah komitmen bahwa kami akan berusaha lebih dalam mengabdikan diri, menjaga generasi, dan tentu melapangkan hati kami untuk senantiasa bersyukur dalam segala kesempitan kami….Semoga