Sabtu, 07 Januari 2012

Ada Cinta di Banjir Ceria


Musim hujan dimulai. Hampir setiap hari dan sepanjang hari curahan air dari langit terus saja turun. Pagi berangkat ke kantor hujan....sampai kantor (kebetulan kantor saya di kota tetangga) juga hujan, pulang kantor sampai petang masih saja hujan.

Sepertinya hujan turun merata di belahan bumi Indonesia tercinta. Mama yang di Kudus juga crita kalo hujan deras hampir tiap hari, teman saya yang di Jakarta juga bilang disana malah kadang hujan derasnya pake acara angin kencang dan pohon tumbang segala. 

Akibat dari hujan deras yang tiada henti, alhasil sungai besar di pinggir rumah yang juga tenar disebut Kali Masjid meluap. Sisi timur rumah mulai kemasukan air. Yah, rumah kami kebanjiran. Depan rumah kondisinya air setinggi betis orang dewasa, kabar dari suami (yang udah bersepeda tadi pagi di tengah banjir) malah jalanan di depan Masjid Agung Kendal tenggelam dengan posisi air selutut orang dewasa, alun-alun kendal juga cukup dalam airnya. Suami sibuk berjaga-jaga di depan pintu rumah agar air tak semakin banyak menggempur masuk rumah kami. Saya? bagian konsumsi saja lah, hihihi...Entahlah beberapa hari ini kondisi badan sedang menurun staminanya. Turun dari ranjang sedikit pusing, perut juga kembung. Mungkin karena pengaruh cuaca juga. Itu sebabnya saya memilih dan dianjurkan suami untuk berada di 'garda belakang' dalam menghadapi banjir.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya ber-banjir-banjir. Selama 25 tahun sudah 5-6 kali sepertinya merasakan banjir. Mulai dari yang cuma semata kaki, sampe se-dada orang dewasa. Tapi istimewanya, ini adalah pengalaman pertama menghadapi banjir bersama suami tercinta. Meskipun seakan 'menderita' tapi tetap harus dilewati dengan penuh momen kemesraan dan ceria dong yaaa... Masa kalah sama anak-anak yang bahagia dengan ketetapan Alloh ini. Anak-anak saja pandai bersyukur :) 

Anak-anak menikmati perahu karet di depan rumah kami
Suamiku dong...ngga mau ketinggalan, sepeda banjir 


Apapun itu...semua ini datangnya dari Alloh Ta'ala. Yuk, sama-sama bersyukur, sama-sama berdoa biar hujannya bersahabat, badan tetap sehat, dan tetap semangat. Semangat menghalau banjir suamiku! Penuh cinta untukmu dalam segenap ke-syukuran-ku :)

Senin, 19 Desember 2011

Rumah Tangga : Perjuangan Tak Kenal Masa

Memutuskan untuk berumahtangga itu artinya kita telah mengikatkan diri ke dalam perjanjian mulia dengan Dzat Yang Maha Menggenggam Jiwa.

Usia pernikahan kami baru 1 tahun 4 bulan, dengan masa pacaran yang hanya 3 bulan. Tapi kata siapa usia pernikahan muda selalu penuh warna ceria? Tidak, kami pun ‘pernah’ melewati masalah-masalah yang penuh airmata *lebay dikit* sepanjang perjalanan kami. Saat saya sakit dan terpaksa bersahabat dengan Rumah Sakit, itu masa-masa menyedihkan. Saat saya kelimpungan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan baru yang ‘berbeda’ dengan lingkungan saya sebelumnya, itu pun juga masa-masa sulit. Saat suami mengalami ‘gegar status’ dari bujang gaul menuju suami yang baik luar biasa, itu pun penuh kerikil tajam. Saat saya harus mahir mengatur keuangan dan mengurangi ke-compulsive buyer-an seperti masa-masa gadis, itu pun perjuangan yang cukup bikin dongkol *hehehe*. Yaa...kami bersyukur dengan apa yang pernah dan akan kami lewati ke depan nanti.

Rumah tangga memang perjuangan luar biasa. Rumah tangga adalah perjuangan yang tidak mengenal masa. Perjuangan sepanjang hayat. Perjuangan yang penuh cinta. Bagaimana tidak, setiap harinya pasti kita akan bertemu dengan hal-hal baru dari pasangan yang mungkin pada awalnya terasa mengejutkan. Tidak rapi saat mengambil baju di lemari, lupa menaruh handuk, meletakkan koran sembarangan, tidak cuci kaki saat hendak tidur, asyik di depan TV atau blackberry tanpa menghiraukan pasangan...sepertinya menjadi hal yang amat sangat menjengkelkan bagi kita pasangan pemula. Disinilah perjuangan itu dimulai. Itu baru masalah yang ‘ngga ada apa-apanya’, saya yakin buaaanyak masalah lain yang lebih besar stressor-nya dibanding hal-hal macam itu.

(Mungkin) ada banyak lawan jenis yang lebih menarik di luar sana. Lebih mapan, menarik secara fisik, baik...itu menurut kita. Jika kita tidak memperjuangkan hati dan rumahtangga kita, saya yakin tahap berikutnya adalah adanya upaya-upaya pembandingan antara ‘sosok luar’ itu dengan pasangan kita. Parahnya lagi jika berupaya untuk mendekati ‘sosok luar’ yang mempesona itu dan tidak sadar untuk semakin dekat dengan zina. Na’udzubillah...

Kami sedang memulai perjuangan kami. Kami sedang memperjuangkan cinta kami agar tetap berada dalam cinta Illahi. Kami sedang memperjuangkan masing-masing diri kami untuk tetap terikat dalam tali Alloh hingga di akhirat nanti. Kami sedang berjuang memperbaiki diri agar kelak siap menyambut dan mengasuh buah hati, mempersiapkan generasi rabbani yang takut akan Alloh, mengagumi Rasulullah, bertutur lembut dan berhati tulus, serta bermanfaat bagi umat.

“Ya Alloh...Ya Rabbana, kami serahkan cinta dan jiwa ini kepada-Mu. Tiada pintu yang akan kami ketuk selain pintu-Mu, tiada sesuatu yang akan kami perjuangkan semata-mata hanya demi ridho dan restu-Mu. Ya Alloh...jadikan langkah-langkah kecil kami sebagai perjalanan untuk menggapai tangga cinta-Mu. Jadikan pasangan kami sebagai jodoh yang Engkau pilihkan. Jangan biarkan kami terserak...kumpulkan kami di surgamu kelak. Karuniakan kepada kami putra-putri yang sholih-sholihah. Yang mencintai dan kami cintai. Jangan biarkan kami berputus asa dan tak lagi percaya terhadap doa-doa kami. Kami mencintai buah hati kami, bahkan sebelum Engkau amanahkan kepada kami. Sesungguhnya hanya Engkaulah Dzat Yang Maha Mengabulkan segala Pinta”

Jumat, 09 Desember 2011

Oleh-oleh Diklat Prajab

Sudah hampir 2 minggu di rumah pasca mengikuti diklat prajabatan, tapi seperti biasa baru sempat ngeposting hohoho. 17 hari yang tak terlupakan. Ada lucu-lucuan, ada serius-seriusan (ngga serius beneran dong hihi..), ada haru, ada bete...komplit gado-gado semua di sini. Entah kenapa waktu terasa sangat cepat saat diklat. Kita mulai kegiatan jam setengah 5. Kebayang dong ya, si dhita yang biasanya jam segitu masih mlungker harus udah dandan rapih buat aerobik. Otomatis jam 3, setengah 4 dini hari udah harus mandi. Pengen nangis kenceng deh awalnya. Tapiii....lama-lama udah terbiasa asik-asik aja tuh. 

Aerobik dan jalan jauh *bukan jogging lagi ah namanya -_- selesai jam 05.45, engga sempet mandi dong ya coz jam 6.15 udah ngumpul lagi di lapangan buat apel pagi. Alhasil tissue basah adalah teman baik sesudah olahraga pagi :)

Sarapan dimulai. Duduk siap grak, tanpa suara saat menyantap, kurangi dentingan sendok dan piring. Menunya sehat sih, ngga heran kalo teman-teman pada nambah berat badannya. Except me! gimana ngga sedih coba, lauknya ayam, telor...khawatir itu produk dari ayam suntikan *parno deh saya. Alhasil tiap dapat menu, teman sebelah yg dapet sampur buat ta hibahin ayam ato telor segede gaban itu hihihi

Kelar sarapan, langsung masuk kelas...full pelajaran dimulai dari jam 07.30 sampe kadang jam 20.00, selingan coffebreak, makam siang dan makan malam. Ngantuk di kelas itu wajar dan manusiawi, tidur di kelas pun acapkali termaafkan. Tapi suka geli kalau ingat nasehat salah satu binsuh di sana, "Boleh ngantuk, boleh tidur, tapi mata tidak boleh terpejam". Gimana caranya coba? Stock permen saya harus full buat ngurangi ngantuk saat di kelas.

Apel malam dimulai biasanya jam 20.15, tapi kadang penah juga sampe pukul 21.00 tergantung jadwal kegiatan pada hari itu. Ngantuk pasti, tapi sampe kamar belum bisa langsung tidur. Musti bikin resume materi dulu, masih harus mandi juga, masih ngerumpi juga sama temen sekamar. Jam 23.00 ke atas baru deh bisa pulasss

17 hari terlewati, harus nglewati ujian dulu. Sehari sebelum ujian padahal jadwal padaaaat, sempat kepikiran kaya mana harus belajar padahal materi seabreg, buku ngga pernah kebaca karena keburu ngantuk saat di kamar. Sistem Kebut Semalam jadi satu-satunya metode belajar yang paling yahud saat itu. Tapi rupanya cara itu gagal juga karena SAYA KETIDURAN! hiks...hiksss...panik, baru kebangun saat subuh, jadi total waktu belajar saya paling hanya kurang dari 2 jam. Modal bismillah dan doa mama,papa, ibu, bapak, juga suami adalah senjata terbaik saat itu. Agak panik sebenarnya saat suami bilang, "Ngawur sekali hon..masa belajar cuma dua jam kurang, dulu jamanku pada begadang loh belajarnya sampe pagi...pasti teman-temanmu juga udah pada begadang tuh belajarnya". Grrrrgh! Suamiku objektif sekali komentarnya...

Dag-dig-dug saat nunggu pengumuman kelulusan, apalagi ternyata eh ternyata...pengumumannya ditunda sampe esok pagi alias sebelum pelepasan pulang. Huwaaa, gimana kalo harus remidi coba. Sampe akhirnya si Bapak panitia Diklat mengumumkan siapa-siapa saja yang dapat peringkat di kelas. Aah, saya sih pasrah..peduli amat sama rangking, yang penting lulus tanpa remidi itu udah cukup. "Ada 70 orang lulus dengan predikat Baik Sekali, 39 lulus dengan predikat baik, dan 1 orang....." (Bapak itu diam menunda kalimatnya), deg-deg-deg jangan-jangan 1 itu ngga lulus *dasar su'udzon :p, si Bapak melanjutkan kalimatnya..."1 orang lulus dengan predikat Memuaskan serta meraih nilai tertinggi di antara satu senat 52,53 dan 54 ini". Teman-teman mulai riuh...Pengumuman dilanjutkan, kebetulan angkatan 52 yang notabene kelas saya berhasil meraih nilai rata-rata paling tinggi dari kelas lain...daaaan peringkat 1 dari angkatan 52 sekaligus lulusan satu-satunya dengan predikat Memuaskan adalah dari Badan PP dan KB Kabupaten Batang..teman-teman riuh menyebut nama saya. Respon saya? "Hellooo...ngga mungkin saya-lah, belajar aja kurang -_-". Ternyata benar, "Anindhita Setianingrum, S.Psi" sebut Bapak itu. Waaaah, alhamdulillahi Ya Alloh, masih diberi amanah untuk menyandang predikat itu. Gembira tentu. Yang jelas itu adalah oleh-oleh untuk orang rumah dan instansi.

eng..ing..eng, ini hasilnya :)

Puluhan sms dan bbm masuk ke hape saya mengucapkan selamat, sms dari kepala dinas, rekan kerja, mama papa, bapak ibu, dan suami saya yang objektif itu tentunya. Saya pikir, keobjektifan suami itu adalah caranya untuk melecut semangat saya dalam menghadapi tantangan (hihihi...luvyew much mas). Yang pasti ada banyaaak oleh-oleh yang lebih menarik daripada selembar surat kelulusan dengan predikat Memuaskan itu. Oleh-oleh saya yang lain adalah puluhan saudara dari berbagai daerah yang sangat hangat, nilai-nilai ke-positif-an selama diklat, badan yang lebih sehat (kata suami perut saya jadi slim selama prajab, badan juga lebih langsing hihihi), dan satu lagi....kulit yang lebih 'berwarna' (rajin upacara sih!). Alhamdulillaaah...nikmat mana lagi yang saya dustakan ya Alloh :)


Jumat, 11 November 2011

11-11-11 : Palindrom dan Diklat Srondol

Tepat hari ini, tanggal 11 November 2011 cukup rame dibincangkan sebagian kalangan. Ya, 11-11-11. Triple eleven tentu tanggal yang mudah di-ingat, cantik dan unik. Entah ada berapa undangan pernikahan yang saya terima hari ini namun keadaan membuat saya tidak dapat menghadiri dan berbagi kebahagiaan dengan mereka, alhasil jejaring sosial menjadi media terhangat untuk dapat mengirim ucapan dan sekutip doa buat kawan-kawan tercinta. Kembali ke 11 November 2011, rekan-rekan saya yang menikah pada hari ini tentu beranggapan bahwa tanggal cantik akan mendatangkan keberuntungan, beberapa dari mereka juga beranggapan Jum'at adalah hari yang penuh berkah sehingga tak ada masalah untuk menikah pada hari ini.

Ternyataaa...ada lagi nih anggapan lain yang mengatakan kalau tanggal 11-11-11 itu justru mendatangkan kesialan. Analisis fengshui menyebut bahwa pada tanggal tersebut, elemen Bumi berupa api Yang dan elemen langit berupa logam Yang. Karena elemen api dan logam saling merusak, maka hari itu dianggap hari yang tidak baik, apalagi untuk menikah.

So, mana yang benar yah? tentu kembali ke keyakinan dan pendapat mereka masing-masing. Tapi sebenarnya yang terjadi pada 11-11-11 adalah palindrom. Apa itu palindrom? Palindrom adalah susunan angka, kata, atau frase yang bila dibaca dari depan ataupun belakang tetap aja sama :)

Coba baca yang ini : 
* level
*Madam, I'm Adam
*kasur rusak
*katak
*malam
*aku suka

Baca terbalik? sama aja khan bunyinya?  Dalam sejarah dari dulu sampai saat ini palindrom angka dianggap memiliki makna tertentu. Apa benar? Dari sudut pandang psikologi, cara manusia memaknai angka cantik mungkin hanya "apophenia". Hal itu artinya bahwa manusia selalu berusaha mencari arti di balik data yang random. Tidak aneh tentunya karena manusia memiliki potensi kognitif yang luar biasa untuk selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak, menganalisa, dan memberikan arti secara personal.

Kurang lebih seperti itu gambaran tentang tanggal yang sedang dilewati hari ini. Palindrom memang selalu menarik untuk di-utak-atik. Tapi yang jelas, pada hari pula saya sedang harus melaksanakan diklat prajabatan di Badan Diklat Srondol kurang lebih 17 hari namanya. Jadiiii, mau tidak mau saya pasti akan mengingat tanggal ini sebagai kenangan bahwa saya pada waktu tanggal 11-11-11 tidak sedang berada di rumah, menguatkan hati meninggalkan suami di rumah sendiri, dan membiasakan diri dengan aturan yang mungkin terasa 'mengagetkan' pada awalnya.
Nikmati saja...nikmati palindrom ini, nikmati situasi diklat ini, nikmati persaudaraan yang ada di Srondol ini. Tentunya juga nikmati saat-saat menyenangkan seperti sekarang ini, kapan lagi bisa nge-blog saat diklat kalo bukan di jam TIK *hohohoho...

Tak lupa teriring salam dan doa untuk teman-teman tercinta yang menyatukan cintanya di jalan Alloh pada hari ini. Maaf yaaah...kondisi yang membuat saya tidak dapat hadir, tapi apapun itu segala kebahagiaan semoga akan berlimpah untuk kalian. Salam :)

Sabtu, 29 Oktober 2011

(sempat) Akrab dengan Tapros


Here we go...akhirnya punya waktu untuk kembali bercerita setelah disibukkan dengan persiapan materi pelatihan untuk para siswa SMP *love this side job so much...full content psychology :)

Masih ingat dengan terapi TAPROS yang disarankan oleh dr. Syarief? Ya, saya sudah melawati terapi itu kira-kira 6 bulan yang lalu *hohoho...telat bgt yah critanya, tapi gpp deh ya daripada tidak sama sekali. Terapi suntik tapros untuk saya pada waktu itu dilakukan 3 kali. 2 minggu setelah laparoskopi...ummmm, kira-kira tanggal 20-an April saya mulai disuntik Tapros. Seperti cerita saya yang lalu, sekali suntikan harganya kira-kira 1,3-1,8 juta. Tapi untunglah obat injeksi ini ditanggung sepenuhnya oleh ASKES *bersyukur jadi PNS sekaligus istri PNS*. Dokter bilang nanti akan ada efek-efek yang mungkin kurang nyaman, misalnya nih...bisa jadi ada gangguan BAK atau BAB, bisa juga ngrasa hot-flush, ngga nyaman lah pokonya... Tapi kok rasa-rasanya di bulan pertama itu saya ngga ngerasa efek apa-apa yah. Alhamdulillah sejak laparoskopi malah ngga pernah lagi tuh ada gangguan BAB atau pun BAK. Semua berjalan lancar pada bulan pertama terapi Tapros ini. Dokter Syarief pernah bilang, masih ada kemungkinan langsung hamil di Tapros pertama ini. Tapi sayang, rupanya Alloh belum memberi kesempatan kami untuk diberikan amanah secepat itu. Saya percaya hanya Alloh yang tahu kapan waktu itu akan indah pada saatnya.

Setelah melewati bulan pertama Tapros, kembali sekitar tanggal 20-an di bulan Mei saya harus kontrol. Sebelum diberi suntikan tapros emang harus di-USG dulu. Selain untuk ngecek kondisi endo-nya, juga buat tau apakah kita udah hamil karena Tapros ini ngga boleh dipake untuk ibu hamil. Bulan kedua pasca laparoskopi, masih belum hamil juga. Oke, tapros kedua pun diberikan daaaan...tampaknya efek obat ini mulai terasa.

Setelah melewati bulan kedua dengan Tapros ini efek-nya mulai terasa. Efek utama tentu saja engga haid *suka bikin perasaan melambung, Ge-eR kali aja hamil'. Dengan ngga haid ini diharapkan sel-sel endometriosis yang bandel itu ngga aktif lagi dan mengering. Kurang lebih gitu sih penjelasannya. Oke, saya mulai merasakan badan yang sakit-sakit pegel gitu, utamanya di tulang belakang. Mulai gampang cape, tapi Alhamdulillah ngga ada gangguan BAB-BAK sebagaimana yang diramalkan ;) Mungkin bener sih kalo Tapros itu ngga boleh diberikan dalam jangka panjang karena kata dokter bisa ngaruh ke tulang. Dari klaim Askes juga cuma dibolehin 6 kali suntik, dan untuk kasus saya dokter hanya menyarankan 3 kali karena abis itu direncanakan buat langsung baby program jadi si endometriosis bandel itu ngga muncul lagi.

Bulan ke-3 (Juni), masih belum haid tentunya dan masih suka ngrasain pegel-pegel dan linu-linu di tulang. Mood juga nge-swing cepet benerrrr, hohoho...suami tercinta yang jadi sering kena omelan cuma gara-gara masalah kecil *hormon terpengaruh banget-lah*. USG di bulan ke-3 belum menunjukkan tanda-tanda kehadiran si mungil kecil janin impian kami. Yasudalah, memang saatnya suntik Tapros lagi. Dari layar USG mulai kelihatan rahim yang 'terang' artinya udah bersih (insyaAlloh) dan ada beberapa semacam perlengketan bekas endometriosis dulu tapi mulai menipis. Dokter bilang udah ngga ada masalah. Diperkirakan haid saya akan kembali normal pada akhir Agustus atau awal September barulah baby program bisa dimulai.  Alhamdulillah, tepat di akhir bulan Agustus si 'bulan' mulai datang sebagaimana yang diperkirakan dokter.
Tetap berjuang demi mendapatkan tawa itu

Perjuangan kami belum berakhir ;)

Minggu, 23 Oktober 2011

Prosesi Bebenah Selesai...Welcome Niu Blog !!!

Finally...proses 'usung-usung' lebih tepatnya lagi menghimpun tulisan yang tercecer di blog sebelumnya telah usai. Sepertinya harus mulai mencatat setiap password blog yang saya miliki *parah...ah, kebanyakan blog malah pusing. Eniwei, dengan bertekad kuat untuk kembali rajin menulis dan keterbatasan ingatan dalam menghimpun blog per kategori peminatan mulai malam ini saya putuskan untuk menuangkan apapun di 'rumah' blog saya yang baru. Semoga bermanfaat bagi rekan-rekan semuaaaanya dan tentu bermanfaat untuk saya sendiri hohohoho

Bayangkan, hampir 5 bulan tidak produktif menulis sungguh-sungguh membawa dampak yang menyedihkan *lebay* hehehehe...setidaknya menulis,nge-blog,atau apapun istilahnya terbukti ampuh menyalurkan emosi yang kurang bersahabat. Setidaknya saya akan menguraikan beberapa faktor yang (saya alami) bikin seseorang jadi ogah-ogahan menulis :

1. Sibuk luar biasa, susah membagi waktu, capek 
Bagi saya yang menyandang banyak status peran (istri, anak, commuter, pedagang, ummm...terkadang jadi pasien) tentu agak kerepotan meluangkan waktu untuk sekedar mampir ngeblog *lihat efek parahnya : lupa password*. Berangkat pagi karena bekerja di kota sebelah, sibuk di kantor, pulang saatnya berperan sebagai ibu rumah tangga setia sekata hohohoho...

2. Lingkungan yang tidak mendukung
Rumah yang 'rame' dengan suara-suara yang menimbulkan distress sedikit banyak bikin mood menulis jadi ilang. Belum lagi kalo suami udah leyeh-leyeh di kasur sambil nyalain AC, plus nonton film pula! Ya Alloh..benar-benar godaan luar biasa *mending nyusul di kasur dah!

3. Sarana yang kurang bersahabat
Koneksi internet yang kaya siput, PC gantian sama suami *padahal punya laptop sendiri tapi tetep aja enak pake PC suami*, dan ini nih yang biasanya terjadi...kadang ide menulis itu muncul tanpa mengenal ruang dan waktu, pengen cepet-cepet dituangin akhirnya pake dah tuh notepad-nya Blackberry. Tapiiii...jadi males nerbitin entri gara-gara tulisan di BB itu kecil-kecil *alasan banget ngga tuh?*

4. Benda-benda penggoda di sekitar kita
DVD, Blackberry dengan fasilitas IM dan jejaring sosial lainnya, kasur, remote AC, TV....itulah beberapa benda dari sekian banyak godaan yang ada.

Sepertinya, alasan-alasan di atas adalah pernyataan yang seringkali dikambing-hitamkan atas ke-engganan kita dalam menulis...hohoho, dan sepertinya semakin malam semakin banyak alasan-alasan konyol yang saya buat. Apapun itu...selamat menikmati 'rumah baru' saya. Semoga jadi semangat buat tetap rajin menulis. Oh iya, selama kosong 5 bulan ini ada buaaanyak banget loh hal-hal baru dan seru yang belum dicritain. Ada pengalaman bersahabat dengan Tapros selama 3 bulan, pertemuan dengan dokter X yang menyebalkan *grrrgh*, curhatan teman tentang pengalaman hamilnya yang bermasalah, sampe kesibukan baru yang cukup menyenangkan bagi saya. Ah...dunia tetap penuh warna, apalagi dengan mensyukuri setiap detik nikmat-Nya.

Paragraf penutupnya mari diakhiri dengan kalimat : Ayo...Jangan malas nge-blog!!! hihihihi...Salam ;)

Ada Haru di Ruang Tunggu


Beberapa hari yang lalu saat saya berada pada antrian ruang tunggu praktik dokter, saya bertemu dengan seorang wanita mungkin berumur 35 tahun ke atas datang bersama gadis berumur kira-kira belasan tahun. Mereka duduk di samping saya, sama-sama menunggu giliran untuk dipanggil tentunya. Saya tersenyum ke arah wanita itu dan mulai ‘sok akrab’ karena sama-sama jenuh menunggu. Kami berbincang sederhana pada awalnya. Mulai bertanya nama, tinggal dimana, hingga kesibukan kami sehari-hari. Hingga akhirnya tentu saja bermuara pada obrolan kenapa kita datang menemui dokter. Saya jelaskan padanya bahwa saya harus kontrol karena saya baru saja menjalani laparoskopi karena kista endometriosis. Wanita itu lalu bertanya, ‘Udah nikah berapa lama mbak? Udah punya putra?’. ‘Wah, saya baru nikah 8 bulan Bu. Doakan pasca LO ini bisa cepet punya momongan ya’, jawab saya waktu itu. Wanita itu tersenyum, ‘Semoga cepet punya momongan ya..Mbak khan masih muda, sama-sama saya juga sedang berusaha buat punya baby’. Dari situlah kisah dimulai...

Wanita itu datang ke dokter karena sedang mengusahakan momongan rupanya.Ia memulai ceritanya, ‘Saya tidak tahu apa yang terjadi pada diri saya. Sudah puluhan dokter saya datangi, tapi jawabannya tidak ada yang memuaskan. Katanya sel telur saya baik-baik saja. Sudah pernah persiapan operasi tapi katanya tidak ada yang perlu dioperasi karena “tidak ada apa-apa”. Masalah saya waktu haid Mbak. Saya setiap haid selalu kesakitan dan transfusi darah. Darah haid saya juga seperti tidak normal. Besar-besar seperti hati ayam. Sering waktu sekolah dulu saya pingsan dan perdarahan banyak sekali karena haid’. Saya menimpali, ‘Mungkin ada kista Bu? Saya masalahnya juga waktu haid sakit banget meskipun tidak seperti Ibu’. Wanita itu menjawab, ‘Belum ada dokter yang bilang saya kista, miom, atau apa. USG juga katanya bersih. Entahlah...’. Saya terdiam. Bingung hendak berkata apa karena saya juga bukan dokter.

Wanita itu melanjutkan kisahnya, ‘Sudah 8 tahun saya menikah Mbak. Tapi saya belum hamil juga. Baru-baru ini saya mencoba inseminasi buatan dengan biaya yang tidak sedikit, tapi sepertinya ada masalah dan tidak berhasil. Wah..saya udah datang ke puluhan dokter. Entah sudah berapa biaya yang saya keluarkan sampai tidak saya perdulikan. Saya dan suami kesepian Mbak...dan ini anak yang nemenin saya ini -*menunjuk gadis di sebelahnya*- udah saya anggap seperti anak saya sendiri karena hanya dia teman saya saat dirumah. Saya sampai keluar dari pekerjaan dan karier saya yang udah lumayan karena saya ingin fokus ikhtiar mendapatkan putra. Dari hasil pemeriksaan, sperma dan organ reproduksi suami tidak ada masalah. Sudah 8 tahun kami menikah Mbak, bukan lagi 8 bulan seperti Mbak’, tutur wanita itu. Saya lihat air mata mulai menggenang di sudut matanya hingga akhirnya menetes.  Ya, wanita itu menangis. Saya bisa merasakan kerinduan dan harapan yang membumbung tinggi dari setiap air matanya yang jatuh. Ada keharuan di dada saya. Ah, menangis bagi wanita seperti virus yang cepat menular. Air mata juga menggenang di mata saya. Saya katakan, ‘Sabar Bu. Jangan putus asa. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Alloh’. Saya yakin...kata ‘sabar’ pasti sudah puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan kali wanita itu dengar. Wanita itu mengusap air matanya. Lagi-lagi saya terdiam. Saya hanya menggengam tangan wanita yang baru saya kenal itu dan memberikan senyum. Saya bisa merasakan apa yang ia rasakan. Saya yang belum setahun menikah saja sudah merindukan ada janin di rahim saya, ingin merasakan sensasi gerakan bayi yang terasa ‘aneh’ sebagaimana cerita rekan-rekan wanita saya saat mereka mengandung, merasakan morning sick atau perut yang katanya terasa kencang saat kehamilan menua. Saya dan wanita di samping saya itu masih terdiam. Seakan kami sedang menghayati perasaan kami masing-masing. Hingga akhirnya nama saya dipanggil untuk diperiksa dan saya berpamitan sambil berkata kepada wanita itu, ‘Jangan pernah lelah ya Bu. Alloh selalu ingin lihat Ibu sebagai umatnya yang kuat dan hebat. Wanita yang terpilih’. Wanita itu tersenyum sambil mengucapkan terimakasih.

Sepanjang perjalanan pulang saya terngiang kisah wanita di ruang tunggu tadi. Betapa dari ceritanya ia sudah berusaha kuat untuk mendapatkan momongan. Pekerjaan dan karier yang bagi wanita dianggap sebagai simbol aktualisasi diri pun berani dikorbankannya. Demi sebuah kehamilan dan bayi yang lahir dari rahimnya. Tapi kenapa, bagi mereka wanita yang dimudahkan jalan kehamilannya seringkali mengeluh dan tidak bersyukur? Saya sering sekali membaca keluhan di status jaringan sosial milik teman-teman wanita saya yang sedang mengandung. Ada yang tersiksa karena morning sickness-lah, lelah muntah-muntah, tidak enak badan, perut kenceng-kenceng, badan pegel-pegel, ngga bisa makan enak, dan berbagai keluh kesah yang lain. Bukankah semua yang mereka rasakan itu sensasi wajar yang dialami oleh wanita hamil? Oke, kalaupun mereka merasa tidak nyaman dengan itu semua atau merasa bermasalah dengan yang mereka alami, bukankah lebih bijak jika mereka menelpon dokter kandungannya, atau datang ke tempat prakteknya dan tidak mengeluh di akun jaringan pertemanan mereka? Tadinya saya berpikir, mungkin saya cemburu dengan kehamilan mereka. Namun setelah perbincangan di ruang tunggu itu saya sadar, keluh kesah yang dilontarkan dan dieksploitasi oleh para wanita hamil bisa jadi menyakiti mereka para wanita yang sedang berikhtiar ‘lebih’ untuk mendapatkan kehamilannya.

Ruang tunggu dokter saya pastinya sudah sesak oleh berbagai kisah dan juga haru di dalamnya. Seperti kisah wanita tadi. Atau mungkin haru seorang ibu yang sedang memandang foto USG janinnya. Ya, ada haru dan kerinduan para wanita yang mendambakan buah hatinya, yang tidak lelah mengusahakannya. Saya berdoa...semoga mereka yang sedang merentas jalan ikhtiar pada akhirnya akan berakhir haru tak terkira melihat ada kehidupan dalam rahimnya, menimang buah hati cintanya. Semoga kerinduan itu berakhir bahagia.